Jawa Barat, propinsi terbesar dari semua pulau di Indonesia terkenal dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya. Terkenal dengan flora & faunanya, burung-burung eksotis dan tradisi uniknya, termasuk musiknya yang dikenal dengan gamelan. Dikenal sebagai “The Golden Coast”, Jawa Barat terletak di pantai barat laut Pulau Jawa. Meski banyak wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini untuk menikmati keindahan alam yang ditawarkan, Jawa Barat juga terkenal di kalangan pengunjung dengan kehidupan malamnya. Banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat ini memilih untuk menghabiskan waktu mereka di sini dengan cara tradisional, menikmati makanan lokal, bernyanyi dan menari, dan bermain permainan tradisional seperti Sepak takraw.

Tradisi bermain bisu ini berasal dari Jawa Barat. Sepak takraw adalah permainan yang berasal dari Asia Tengah. Saat ini, banyak orang dari seluruh dunia terus memainkannya, terutama di Amerika Selatan, Australia, dan belahan dunia lainnya. Asal usul permainan ini dapat dilacak sejak abad ke-9, dimana permainan ini dimainkan oleh suku-suku yang sekarang dikenal sebagai Jawa Timur di Jawa. Saat itu, itu disebut “kuda-kuda” atau “pertarungan bantal”. Sepak takraw dimainkan dengan menggunakan kedua tangan dan kaki.

Kebudayaan Yang Menyenangkan

Permainan hari ini bukan hanya cara yang menyenangkan untuk menghabiskan malam yang menyenangkan, tetapi juga merupakan olahraga yang membutuhkan keterampilan, daya tahan, dan strategi. Sepak takraw melibatkan melempar bola yang disebut sebagai “kuda” (“tumpukan”) kepada orang-orang yang bersaing dalam perlombaan. Pemenang lomba adalah orang yang mendapatkan jumlah maksimum “kuda” atau pound, yang juga disebut “bola”. Permainan ini dikembangkan lebih lanjut selama abad kesembilan belas, ketika orang-orang dari berbagai kelompok etnis di Pulau Jawa mulai memainkannya untuk tujuan hiburan dan rekreasi. Saat ini, permainan ini biasanya digunakan dalam acara-acara seperti kompetisi tarik tambang, lari estafet, dan voli pantai.

Selama tahun-tahun awal Sepak takraw, orang-orang biasa terlibat dalam pertandingan persahabatan satu sama lain. Namun, untuk meningkatkan tingkat kemampuan bermain mereka, mereka mulai membentuk tim dan mengikuti kompetisi internasional. Dari sana, popularitas permainan secara bertahap tumbuh di kalangan penduduk lokal dan wisatawan di Jawa. Saat ini, Sepak takraw paling sering dimainkan saat perayaan seperti Staturmas, Malam Tahun Baru dan Tanah Lotek, ketika orang berkumpul untuk bersenang-senang. Bahkan lebih populer di pesta pernikahan karena bisa digunakan sebagai obat kurap.

Orang Sunda terkenal dengan keramahannya dan selalu menawarkan makanan kepada tamu. Tamu di Jawa diharapkan menikmati makanan yang dimasak di rumah. Karena Sepak takraw adalah tradisi lisan, budaya ini telah melestarikannya dari kepunahan. Dalam hal keramahan, orang-orang di Jawa benar-benar ramah. Mereka tahu bahwa keramahan dimulai dari cara kita diperlakukan.

Aktifitas Berbeda

Faktanya, ada lebih dari 30 dewa dalam agama Sunda. Setiap dewa dikaitkan dengan aktivitas yang berbeda. Meskipun ada beberapa dewa yang dianggap baik hati, kebanyakan dari mereka dianggap sebagai pelindung dan penolong. Beberapa dewa pelindung adalah Luang Poh Cham, Luang Sucherat dan Luang Sudau.

Luang Sucherat dianggap sebagai ayah dari semua Dewa Matahari. Sebagian besar budaya Sunda terkait dengan konsep alam. Banyak festival yang didasarkan pada transformasi alam, seperti Luang Nang Tee. Festival ini merayakan kembalinya seekor burung yang hilang dan akhirnya menemukan jalan kembali ke surga.

Sepak takraw adalah festival terkenal yang diadakan pada akhir Januari atau awal Februari. Sebelum perayaan ini, diyakini bahwa matahari akan terbit di pagi hari dan terbenam di malam hari. Untuk itu, Sepak takraw diperingati selama 25 hari selama akhir pekan panjang. Orang-orang percaya bahwa selama akhir pekan yang panjang ini, roh akan kembali ke tempat peristirahatan mereka.